Tuesday, June 30, 2009

Event Organizer Ulang Tahun keluarga

Fandi punya bakat dalam meng-organisir, mulai dari permainan bersama teman-temannya sampai acara keluarga seperti Ulang Tahun.

Dalam bermain, Fandi yang saat itu masih berumur 7 tahun, mengajak teman2nya untuk bermain "monster-monster-an" , semua teman dan adik-adiknya di kumpulkan, lalu Fandi memberi pengarahan kalau mereka harus berlari bila ada Monster yang mengejar. Siapa yang jadi monsternya? Tidak seorangpun. Lalu?

Fandi membuat semua yang terlibat mempunyai imajinasi, sang bocah dengan sepenuh hati membuat monster dalam otaknya dan menceritakan kepada mereka. Sang monster mulai dari yang berbentuk cairan (terinspirasi dari film The Blob), monster yang mempunyai kepala naga tetapi tubuhnya gurita atau monster jepang yang bernama Godzilla.
Cara bermain? Fandi mengorganisir semuanya untuk mendengar aba-aba, saat suara teriakan mengelegar " AWAS, MONSTER DI BELAKANG, LARI" , semua kepala meneegok ke belakang dan atas, mereka semua berteriak ketakutan dan kalang kabut, Fandi memberi pengarahan lagi siapa yang harus terjatuh dan mati di makan monster. Mereka semua ikutan saja apa yang di suruh oleh Fandi. Biasanya Fandi, adalah orang yang tidak akan di tangkap dan dimakan sang Monster karena saat dirinya yang tersisa, dia pun memberhentikan permainan.

Ada juga permainan bernama "Kiongsi" , nama yang aneh, tapi inipun terinspirasi dari film vampire cina yang lompat lompat. Fandi mengorganisir kembali semua yang ikut bermain. Ia pun tidak segan-segan membuat berlembar-lembar kertas yang ditulis bahasa cina asal. Katanya untuk di tempelkan ke jidat sang vampir agar dia berhenti mengejar.
Lalu, siapa yg sudah di tunjuk Fandi menjadi vampir, harus menunggu di luar pintu gerbang halaman. Lalu Fandi berteriak, "MULAI!"
Suara pintu gerbang di ketuk, sekali, yang didalam mulai tegang, ketukan ke dua, semua siap-siap kabur, lalu Fandi menyuruh seorang anak yang ikut bermain untuk membuka pintu. 
Saat pintu dibuka, sang Vampir menyerbu masuk. Semua anak-anak kocar kacir menyelamatkan diri. 
Untuk menghindari tertangkap Vampir, harus berhenti dan menahan nafas dengan menekan hidung dnegan kedua jari telunjuk. Tapi sang Vampir pintar, ditunggulah di depan sang penahan nafas yang apes itu. Tidak lama kemudian, sang Vampir berhasil mencekik karena sang korban telah kehabisan nafas.
Bagaimana sang Vampir dikalahkan? dengan menempel kertas yang telah di buat tadi, kertas yang bernama "Fu".

Fandi memang sok repot, ide di kepalanya untuk mengorganisir sesuatu tidak pernah stop. Ulang tahun adik perempuannya pun tidak luput.
Adiknya yang akan mengadakan Ultah ke 10 itu sudah direncanakan seminggu sebelum hari H.
Sudah diputuskan karean takut biaya besar kalo dirayakan di luar, maka rumah adalah tempat pestanya.  Hiasan kertas krep atau Balon warna warni sudah terlalu biasa, tapi untuk menghemat biayapun orang tua Fandi dan adiknya sudah membahas untuk tidak mahal-mahal.
Kue tart sudah di pesan, kantong berisi makanan dan coklat sudah siap di berikan ke tamu-tamu yang datang, makanan pun sudah siap di masak untuk dimakan saat pesta. 
Fandi pun mempunyai ide untuk membuat pesta kali ini bertema. Sang adik setuju saja.
Fandi meminta uang sebesar 30.000 rupiah untuk modal. 
Tidak lama, ia balik dari toko buku, yang dibawa hanyalah kertas kertas karton ukuran besar berwarna putih dan hitam. 
Sejak pagi, Fandi tidak mau diganggu sama sekali. Menutup pintu dari semuanya. 3 jam sebelum ultah dimulai, fandi keluar dan mulai membereskan dekorasinya. 
Semua kertas karton yang digambar, ada berbentuk Jack the pumpkin, ada gambar tengkorak, ada gambar hantu berkerudung, wanita berambut panjang dengan wajah seram dan bibir yang lebar, Monster goblin, beberapa batu nisan dengan tangan-tangan yang bermunculan (tentu saja semua terbuat dari kertas yang telah digambar dengan crayon)
Lalu ada juga tambahan, bantal guling yang di ikat tiga berbentuk pocong, lalu digantung di atas langit-langit, ada juga sapu yang ikuyan digantung, lalu batok kelapa dari pasar yang di iket kayu dan diberi baju bekas di letakkan di atas meja. 
Di dinding tengah, bukan huruf SELAMAT ULANG TAHUN berwarna-warni yang terpasang, malah dibuat dengan bentuk yang mengerikan dengan warna merah seakan darah mengalir. 
Sang adik yang mempunyai acara bertanya, "kok kaya Haloween?"
Sang kakak dan juga EO-nya pesta ini  menjawab :"Udah deh, pokoknya lihat nanti, keren deh"

Mulailah teman-temannya datang, lampu di matikan, hanya ada cahaya lampu kuning, senter dan beberapa lilin di atas meja yang menyala. Mulai terdengar suara anak-anak kecil ketakutan. Mereka bertanya kok gelap?
Tiba-tiba dari pojokan muncul asap-asap mengepul, yang berasal dari Kembang/bunga Es yang dimasukkan ke dalam gelas. Musik pun terdengar dari stereo set, musik yang akan membawa nalar kembali ke zaman mesir kuno yang misterius. 
Suara anak-anak mulai terdengar, kali ini mereka sepertinya mulai takjub.
Lalu Fandi yang juga menjadi MC, muncul dalam kain berwarna putih yang di pakai menutupi seluruh tubuhnya mulai dari kepala. Menuruni tangga dan berkata dengan suara yang dibuat-buat agak seram  ," SELAMAT DATANG SEMUA, DI RUMAH KEMATIAN, KALIAN YANG DATANG KE PESTA INI AKAN MERAYAKAN ULANG TAHUN DAN TIDAK AKAN KEMABLI KE RUMAH KALIAN"
Sukses, semua teriak dan menjerit, semua berkumpul dalam kegelapan bersama sang adik yang berjanji tidak akan meminta sang kakak untuk menjadi EO pesta ulang tahunnya ke depan.

Apakah Fandi selalu menjadi biang kerok dan EO yang kacau? tentu tidak, itu namanya kreativitas. 
Tidak semuanya yang di tangani Fandi selalu aneh-aneh. Ada juga yang sukses dan akan dikenang orang-orang termasuk ibunya.

Sang ayah dan adik laki-laki Fandi yang saat itu sedang berada di luar negri untuk bekerja dalam waktu yang lama, meminta Fandi untuk membuat pesta Ultah kejutan untuk sang ibu dengan budget. Fandi pun mengajak adik-adiknya untuk bekerjasama membuat ini sukses.
Dia membooking sebuah restoran yang tidak mahal dan mengundang semua daftar undangan.
Standar aja? biasa aja? Ya lah...masa mau buat pesta Haloween lagi atau monnlight party buat sang ibu?
Tapi bukan Fandi kalau hanya ini aja, dia sudah merencanakan sesuatu!

Saat pesta berlangsung, seperti biasa, semua tamu muncul dan mulai duduk di meja masing-masing, memakan yang sudah di sajikan, seperti biasa lah.
Lalu saat yang di nantikan tiba, Fandi muncul dengan Kue Tart yang telah diberi lilin, dan bersama sang adik-adik yang masih di Jakarta membawanya ke hadapan sang ibu yang di kelilingi beberapa anggota keluarga.
Kemudian sebuah buket bunga di berikan kepada snag Ibu, kemudian fandi kearah panggung dan mengambil Mic.
"Buat Mama, walau Papa sudah 3 tahun belum bertemu Mama lagi, ini lah yang dapat diberikan kepada Mama, Papa pun menitipkan lagu yang akan di nyayikan Fandi buat Mama, Selamat Ulang tahun Ma, dari kita semua"
Lalu...lagu "I can;t help falling in love " berkumandang dari mulut Fandi.
Sang Mama sedang menangis di bahu kakak perempuannya, di sambut dengan tepuk tangan semua hadirin.


Thursday, June 18, 2009

BAB 8 : KISAH AWAL MAMA DAN FANDI

Setengil-tengilnya Fandi, kalo soal Mamanya, dia pasti takluk. Tapi emang sih kadang Mamanya sendiri sampe ampun-ampun meghadapi ketengilan Fandi. 
Kisah dibawah ini, merupakan tribut buat sang Mama

Siapa bilang kalau surga itu di bawah kaki ibu? Mungkin pribahasa ini sering kita dengar mulai di sekolah, tempat ibadah bahkan dari ibu kita sendiri. Mungkin ini ada benarnya, mungkin ada pula yang tidak peduli dan masa bodoh. Banyak sekali mereka yg menyayangi Ibunya karena pribahasa ini, tidak sedikit pula mereka-mereka yang tidak peduli dengan ibunya, benci sama bundanya karena ketinggalan jaman dan tidak mengerti anak muda, bahkan mungkin ada yang tidak mau lagi mengakui wanita yang melahirkannya dengan alasan malu mengakui sang Ibu.

Buat Fandi, surga itu bukan di kaki Ibu.
Surga itu ada di kata-kata, peringatan, omelan, perhatian serta di semua apa yang mama Fandi lakukan. Tidak hanya di kaki Ibu, itu tidak cukup. 

Mama Fandi waktu muda adalah gadis yang sangat pemalu (bisa dibaca di Bab 1).
Dalam pendidikan, Mama Fandi adalah wanita yang tidak berpendidikan tinggi, bahkan bisa di bilang bukan jenis wanita karir saat mulai kerja. 
Mama Fandi pernah bekerja di toko Batik di daerah Pantjoran, Jakarta Barat. Tapi setelah mempunyai Fandi, Mama yang bernama Lili ini pun berhenti bekerja dan mengurus Fandi.

Hubungan Mama dan Fandi, berhubung putra pertama sangatlah dekat. Banyak cerita-cerita serta kisah-kisah yang melibatkan mereka berdua. 

Dalam mendidik anak, ke Fandi dan adik adiknya, Mama Lili tidak pernah menggunakan kata-kata keras serta fisik. Mungkin bagi banyak orang, mereka pikir, kami di manja...TIDAK...justru itu tidak membuat kami manja, tidak tahu apa rahasianya.
Ada kata-kata yang di ajarkan Mama kepada anak-anaknya bila masalah datang, baik dengan orang lain , " Ya, sudahlah, kita ngalah saja, daripada buat masalah lebih besar, orang yang ngalah bukan berarti kalah tapi tidak mau memperpanjang masalah tambah runyam". ataupun masalah hidup, "banyak doa, pasti masalah nanti terselesaikan, mama yakin, kalian gak bakal susah hidupnya".

Dalam sekolah, Mama tidak banyak menuntut Fandi untuk Juara 
ataupun yang paling menonjol di kelas. Mama pun tidak pernah memaksa Fandi untuk kursus tambahan ini itu. Malah beliau bilang, "Mama tahu kamu tuh beda, kamu aja deh yang milih mau apa, kalo sanggup Mama turuti asal kamu jangan buang uang dengan sia-sia". Karena itu, Fandi mulai dari kecil, tanpa perintah atau saran orang tua, memilih sendiri Kursus di luar sekolah.
Dari belajar melukis dengan Alm.Pak Tino Sidin sampai bahasa inggris Fandi lakukan dengan kemauan sendiri.
Saat Fandi memasuki masa malas-malasnya melanjutkan semua kursus, Mama cuma bilang, "kamu gak mau kursus lagi? nanti sayang loh, katanya mau jadi orang besar kalau sudah besar?" setelah itu, Fandi lanjut lagi.

Mama dan keluarganya bukanlah keluarga seniman, tapi buat Fandi, mereka ini lah yang membuat Fandi menyukai seni terutama musik.
Waktu bayi, untuk membuat tidur Fandi, sang Mama sambil mengayun ayunan yang terbuat dari kain batik (cukin) di gantung di atas langit-langit, lalu bernyanyi dengan alunan yang sama "si Fandi mau bobo, si Fandi mau bobo, si Fandi mau bobo, si Fandi mau boboooo..."
Saat Fandi berumur masih bocah, kupingnya sering mendengar lagu-lagu Dian Pisesha, Betharia Sonata, Nia Daniati, Ebiet G Ade, Gombloh, Vina Panduwinata, Chrisye, Koes Plus, Mus Mulyadi, Richie Ricardo, Obbie Messakh, The Carpenter,  sampai LOBO. Belum lagi lagu-lagu keroncong koleksi Tante Fandi. Oleh karena itu, Fandi hidupnya sangat berwarna dengan musik.
Mama dan tante-tante Fandi tergabung dalam kelompok angklung sejak mereka muda, bahkan sempat bermain sampai Istana di undang Bu Tien Soeharto untuk seb
uah acara. Mama dan tante-tante pun masih bermain angklung sampai kini. Sudah puluhan tahun, maish memegang musik khas sunda tersebut dengan memakai kebaya dan rambut di sanggul bersama kelompok Angklung bimbingan Pak Obie.
                                       
Mama juga orang yang tabah, berapa kali dalam hidupnya mengalami jatuh yang menimpa keluarganya hingga sampai bawah sekali, mulai pada tahun 1960an, hingga yang terjadi pada saat kerusuhan Mei 1998. Mama Fandi selalu berdoa, tidak pernah sedikitpun menyerah bahkan saat doa-doa beliau belum terjawab dengan cepat, tidak pernah meninggalkan hati kepercayaannya. Itulah yang selalu di lihat Fandi. Mama selalu berlutut dan mengatupkan kedua tangan sambil berdoa di depan altar dengan cahaya lilin dan bau dupa. Doa mama selalu "Kebahagiaan buat keluarga". Hasil yang di dapat, doanya tidak pernah ada yg luput, keluarga selalu bahagia.

Yang paling di suka Fandi dari Mama adalah masakan mama. Buat Fandi seenak-enaknya makanan di restoran dan luar sana, tetap masakan Mama paling yahud. Meskipun hanyalah Tempe di kasih kecap, sayur asem, Ikan asin goreng, Cumi asin cabe hijau, dan Telor goreng kecap, serta banyak makanan lainnya yang kebanyakan adalah makanan Indonesia, tetap masakan Mama yang selalu memanggil Fandi untuk makan di rumah. Bahkan ketika Fandi dewasa dan berada jauh dari Mama, saat Fandi di luar, Masakannya yang selalu membuat Fandi ingin pulang. Masakan Mama dimasak dengan hati dan keinginan untuk memberi makan anak-anaknya, itulah yang membuat enak.

Keluarga Fandi bukanlah keluarga yang mempunyai banyak uang saat itu, Mama pun tidak pernah mendapat liburan bersama keluarga, bahkan teman-temannya pun yang banyak berlibur sampai ke luar negri, tapi tidak untuk Mama.
"Uangnya buat Anak-anak dulu", jawaban Mama Lili.
Oleh karena itu, Fandi merasa dirinya bisa seperti sekarang ini karena perjuangan Mamanya yang mengorbankan semua-semua untuk putra-putrinya. 
Sejak tahun 2005, saat Mama berumur 50 tahun barulah Mama berkesempatan melihat dunia, Fandi membalas hutang budi Mama, bukan dengan berlian, bukan dengan permata ataupun emas, tapi mengajak Mama melihat dunia. Sudah lebih dari 6 negara, Fandi memberikan Mama hadiah yang tidak dapat terlupakan untuk dirinya. Melihat dunia pun bukan sendiri tapi bersama keluarga Mama.

Karena dekatnya dengan sang Mama, semua masalah bahkan sampai rahasia yang ada di diri Fandi, Mama tahu dan beliau selalu meghadapi dengan bijak. Fandi pernah berpikir bagaimana kalau dirinya kehilangan sang Mama. Maksudnya untuk selama-lamanya.
Pernah dalam pikirannya, "mungkin kalo jauh dari Mama, lama sekali, pas saat kehilangan Mama pasti gak bakal merasa banget". Saat di luar dalam waktu yang lama, bukan bisa sedikit jauh, Fandi malah kangen banget. Tidak berhasil!

Mama Lili suka menggaruk punggung Fandi sebelum tidur, suka mengorek kuping sebelum tidur, menyisir rambut Fandi, bila Fandi sakit, manjanya suka tidur di pangkuan sang bunda.
Terlalu banyak hal-hal kecil yang tidak dapat di ceritakan, tapi yang pasti, Mama Lili buat Fandi adalah Surga.


Wednesday, June 17, 2009

BAB 7 : AMA



Di sekolah, semua anak pasti belajar mengenai keluarga. Mulai dari Ibu, Ayah, Om, Tante, keponakan, Kakak, Adik, sepupu, kakek bahkan nenek, semua panggilan ini pasti kita pelajari.
Di setiap keluarga pun pasti mempunyai kakek dan nenek. Kalau di satu keluarga tidak mempunyai Kakek atau nenek, tidak mungkinlah. Siapa yang melahirkan ibu atau ayah?
Kakek dan Nenek pun bermacam-macam panggilannya. Mulai dari Opung, Apa, Oma, mbah bahkan Eyang.
Saat ini Fandi akan membicarakan tentang Neneknya. Nenek itu pun banyak persepsinya. Nenek itu karena sudah tua cerewet, galak, tidak mengerti anak muda, suka bikin repot, pokoknya gak asik. Bahkan ada yang menyamakan neneknya dengan nenek sihir atau kalau bisa gak perlu ketemu nenek deh.
Nenek Fandi di panggil Ama. Seorang nenek biasa yang memakai gigi palsu. Wajahnya bulat, berambut keriting dan murah senyum. Kalau bisa dibilang Ama adalah komedian keluarga.
Kejadian-kejadian yang terjadi bukan karena Ama adalah pelawak tapi karena ama itu sendiri. Yang paling seru dari Ama adalah kalau beliau bercerita. Perut bisa sakit.

* * * *

Ama dan minyak balsem panas

Kisah ini adalah favorit cucu-cucu ama. Ama bercerita, dirinya baru beranjak remaja, kira-kira berumur 12 tahun. Saat itu, ia merasa di sekitar dadanya tumbuh benjolan. Karena takut merepotkan keluarga serta ibunya, Ama pun memakaikan an mengusap balsem panas yang banyak ke dadanya. Hal ini dilakukan setiap habis mandi. Selang seminggu kemudian, Ibu ama pun mulai bertanya, " setiap sore sehabis mandi, kamu kok bau balsem? kamu sakit ya?"
Bukan menjawab, Ama malah kabur. Ibu ama mengejar. Kemudian memaksanya untuk menjawab, " Kamu kalo sakit, bilang dong, kita ke dokter".
Ama pun menjawab, " abis ada dua bisul di dada, saya takut semakin besar, makanya saya usap dengan balsem supaya kempes...".
Ibu ama tertawa..."itu kan tete..."

* * * *

Ama dan calon suami

Kisah ini diceritakan saat Fandi bertanya sejarah Ama dengan suaminya. Dari sisi Ama dan Kakek.

Saat Ama berumur di bawah 20 tahun, dirinya telah di jodohkan dengan putra rekan keluarganya. Jodoh jodohan masih berlaku saat itu. Ama tidak dapat menolak karena ini sudah tradisi. Dalam hati, Ama tidak ingin menikah muda dengan pria yang belum pernah di temuinya.
Saat pernikahan pun tiba. Ama menunggu sang calon suami datang ke rumah untuk menjemputnya. Ama telah memakai baju Cheong Sam pengantin dengan tutup kepala bertirai yang menutup wajahnya. Ama tidak dapat meilhat keluar, hanya dapat melihat arah kaki saja.
Dalam hati Ama, " Gimana kalo giginya hiyam-hitam? gimana kalo matanya juling?,"
Dalam hati sang calon suami pun sama, " Gimana kalo sang wanita wajahnya seperti babi? gimana kalo hidungnya pesek?"
Ternyata keduanya sudah mempersiapkan diri untuk tidak akan menyentuh satu sama lain pada malam pertama dan sudah memikirkan bagaimana caranya agar cepat bercerai.

Genderang berbunyi, rombongan calon suami datang. Di sambut dengan petasan yang memekakkan telinga. Hati kedua anak muda ini juga berdegup kencang.Kaki Ama kalau bisa melarikan diri pasti sudah dilakukan dari tadi.

Setelah mendegarkan beberapa kata dari tetua yang memimpin upacara pernikahan. Pemberian angpau pun dilakukan dari para orang tua dan kerabat. Tiba giliran sang pengantin untuk melihat wajah masing-masing. Sang calon suami yang sejak tadi hanya melihat tirai menutup wajah calon istrinya juga tidak sabar. Hati Ama ingin menangis karena takut apa yang dibayangkan terjadi dan hidupnya akan menderita dengan suami yang tidak akan dicintainya.
Saat tetua berkata untuk membuka tirai sang pengantin wanita. Ama membuka perlahan dan masing-masing dapat melihat wajah keduanya.

Sejak saat itu, Ama dan sang pria telah mempunyai 5 putra, 5 putri dan 18 cucu.

* * * *

Ama dan warna rambut

Ama yang sudah tua tetap ingin kelihatan eksis. Tidak menggunakan face lifting tentunya. Rambutnya di warnai dengan memakain pewarna rambut. Katanya untuk menutup uban.
Seperti biasa, Ama sering memakai produk yang sudah dikenalnya. Merek yang sama dengan no dan warna yang sama, bahkan ia mencatat di sebuah kertas.
Suatu hari, ama bersama Fandi ke sebuah supermarket. Ama hendak membeli Pewarna rambut yang biasa di belinya. Fandi yang saat itu di samping Ama menyarankan untuk memakai produk yang lain. Fandi mempromosikan merek tersebut dengan mengatakan warna lebih alami, tidak mengandung zat kimia dan lebih terkenal di banding yang dipakai Ama.
Ama percaya oleh Fandi. Kemudian Fandi mengambil sebuah pewarna rambut dan mengatakan warna yang ini yang sama dengan apa yang Ama biasa pakai. Ama bertanya, " kamu yakin yang ini?" Fandi yang sok tahu menjawab,"Ya Ama..yg ini"
Ama pun membelinya.
Kejadian ini terjadi hari kamis.
Pada hari minggu, Fandi bertemu dengan Ama di sebuah pertemuan agama Buddha. Ama memanggil Fandi...
"Fandi..kamu lihat, warna rambut ama...Ungu!".

* * * *
Ama dan Bahasa Indonesia

Ama tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik, tetapi beliau juga tidak mengajarkan putra-putri serta cucunya berbahasa mandarin. Karena Ama tidak dapat membaca, karena keluarga Ama waktu ia masih kecil termasuk miskin.
Ama tetap memakai bahasa Indonesia walau kadang bermasalah.

Ama mengucapkan Borobudur menjadi Bolobolobulur
Ama saat membeli Counterpain, ia mengatakan Kontolpen

* * * * *

Ama adalah sosok nenek yang sangat baik. Ia suka memasak makanan kesukaan keluarga terutama favorit Fandi.
Perjuangan Ama membesarkan anak-anaknya hingga menjadi pribadi yang baik pun menjalar ke cucu-cucunya.
Ama juga adalah sosok yang sangat kuat.
Saat beliau berumur 78 tahun dan kondisi kaki serta nafas yang tidak baik. Ama masih Memaksa ikut Jalan-jalan keluarga ke 5 negara selama 2 minggu, ber BACKPACKING ria. Kalau tidak diajak karena keluarga khawatir kesehatannya, Ama menjawab, " Oh, ya udah, tinggal aja dirumah, sudah tua aja tidak dikasih melihat dunia" sungguh diplomatis.

Senyum selalu menghias wajahnya.

Fandi sayang Ama

BAB 6 : KEBIASAAN DIMULAISEJAK DINI

Fandi kecil kurus dan kecil. Dirinya paling susah kalau disuruh makan. Mama Fandi mulai khawatir dengan keadaan putra pertamanya. Walau masih umur 4 tahun, tubuh bocah itu seperti umur 2 tahun-saat dewasa tubuh Fandi sangatlah tinggi dan besar-. Mama pernah memberi Fandi makan mulai dari nasi goreng, bubur sampai mie. Mulai dari makanan Indonesia sampai makanan chinese. Mulai dari Ayam goreng bertepung sampai hamburger. Semua susah masuk ke mulut Fandi. Bahkan, seperti kebanyakan orang tua lain yang memaksa anak-anaknya makan, sendok pun di jadikan kapal terbang, diayun-ayunkan dan berkata," ini pesawatnta, buka mulutnya dong, pesawat mau masuk", dengan suara kapal terbang dari mulut. Ngennggg...ngenngggg...
Gagal total juga.
Kadang mama berpikir, " ya sudahlah, irit juga biaya makan" tapi baru 5 menit, mama panik, takut kalau putranya jatuh sakit, biaya lebih besar dari makanan.
Suatu hari, setelah mencoba berbagai cara dan menu, Mama pun mendapat ide.
Nasi yang baru matang itu, langsung di bentuk menjadi bola-bola kecil, seperti bentuk onigiri, lalu mama menaburkan garam ke seluruh nasi gulung tersebut.
Ide mama kali ini sangatlah berhasil. Fandi makan dengan lahap. Kadang sampai 10 butir sekali makan. Mama sangat senang sekali anaknya makan dengan lahapnya, bahkan belum jam makan, si bocah sudah memintanya.
Tapi lama-lama Mama berusaha menghentikan kebiasaan makan anak pertamanya ini. Fandi jadi suka banget sama Garam, tanpa nasi pun Fandi suka menikmati garam, seperti makan keripik kentang. Bahkan mama punya kesulitan untuk menyembunyikan garam di dapur.

* * * *

Bisa bayangkan, sebagai anak kecil berumur 4 tahun yang sakit perut dan rasa ingin mengeluarkan sisa sisa makanan dalam perut? Kemudian ketika memasuki Kamar mandi, rasa takut menyergap. Ruangan yang dingin dan lembab dengan wastafel dan toilet yang ukurannya hampir sebesar tubuh bocah 4 tahun. Dalam pikirannya, "kalo jatuh kedalam toilet saat melakukan ritual gimana ya?" atau " kalau ada tangan yang keluar dari lobang toilet gimana ya? atau " kalau nanti ada ular gimana ya?"
Jadi, bila Fandi menolak untuk masuk ke toliet walau sakit perut dan hanya bisa meringis menahan perut, harap maklum. Paranoid WC ini terjadi pada bocah ini.
Mama kadang kasihan melihat wajah anaknya yang dapat berubah setiap 3 detik karena menahan perut. Mama sering memberi ide untuk menemaninya. Tapi sang bocah berkata " Nanti kalo ada tangan yang pegang Fandi, mama pasti kabur". Kadang Mama, tidak mau berargumentasi dengan anaknya yang sok tahu,
Suatu hari, Fandi menemukan cara buang hajat yang baik dan benar.
Saat menahan perutnya agar tidak isinya tidak berceceran dijalan. Fandi yang tetap bersikeras tidak menggunakan Toilet kamar mandi keluar rumah dan melihat selokan di depan rumahnya.
Tanpa berpikir 1000 x. Sang bocah membuka celananya dan....
Mama yang melihat ini langsung berteriak dan geleng=geleng kepala.
Sejak saat itu, Fandi mempunyai toilet pribadi dengan suasana alam. Sungguh menyegarkan. Selang beberapa minggu, Fandi pun punya kebiasaan tambahan. Sambil membaca koran atau buku dan majalah, sang bocah berumur 4 tahun ini sangat menikmati waktu buang hajatnya.



BAB 5 : PERTAMA KALI...

Saat Fandi masih di kelas 2 SD, kursus bahasa inggris telah di tekuni. Bahasa asing satu ini telah lama menjadi bahasa yang menarik dirinya untuk dapat dipelajari. Ketika di tes masuk ke sebuah lembaga bahasa inggris pertama kali, Fandi mendapat kelas yang lumayan tinggi untuk anak sepantarnya. Jadi ketika sang bocah berada di kelas SMP 1, teman-teman sekelas kursusnya kebanyakan anak kuliah dan para pekerja. Tetapi Fandi tidak canggung, malah dia banyak mendapat banyak pelajaran baru termasuk sex.

Mahasiswa berumur 19 tahun itu adalah kawan Fandi di dalam kelas bahasa inggris waktu Fandi berumur 12 tahun. Setiap selesai kursus maka mereka seperti kakak adik berjalan bersama. Toko Buku adalah tempat yang sering mereka kunjungi.

Sore itu sehabis pelajaran selesai, Fandi terlibat percakapan kecil dengan sang mahasiswa yang bernama Agus.

” Fan…loe pernah lihat buku ini gak?”, tanyanya sambil mengeluarkan sebuah buku kecil seukuran 10 x 10 cm.

“Buku apa itu? Kamus bahasa inggris terbaru? Novel Tara Zagita?”, tanya Fandi sambil melihat buku tipis itu.

“Ini…tapi jangan sampe ketahuan. Lihat diam-diam”, sambil menyerahkan buku itu kepala Agus menengok kekanan kiri untuk mengecek keadaan kelas.

Fandi mengambilnya dan membuka buku kecil tersebut. Matanya terbelalak, kemudian melempar buku tersebut balik ke tangan Agus.

” Gila..ntar ditangkap loh”, Fandi ketakutan.

“Ya gak lah. Loe bawa pulang sambil buat onani”, dengan santai mahasiswa berkacamata itu berkata.

“Onani?, apa tuh?”.

Sambil menatap Fandi, Agus menggunakan tangannya dan memperagakan apa itu arti Onani.

Fandi menutup mulut dengan tangannya.

“Belum pernah.., sakit gak?”.

“Loe coba aja ke kamar mandi, sambil mandi ambil sabun,olesi sampai berbusa dan terus lakukan seperti ini berkali-kali”, Agus memberi keterangan.

“Terus?nanti berdarah?”, tanya Fandi lagi.

“Ha ha ha ha..Aneh deh pertanyaannya.Nanti pokoknya enak deh. Loe belum pernah ya? Keluar sesuatu yang buat loe enak deh”,Agus berkata sambil menepuk bahu Fandi.

Fandi terdiam dan sepertinya ia tahu apa yang dimaksud oleh kawan sekelas bahasa Inggrisnya itu. Ia pun pernah merasakan apa yang dimaksud kawannya, tetapi tanpa bantuan tangan seperti yang di ajarkan Agus.

Sesuatu yang enak itu…

3 Bulan sebelumnya.

Majalah Donal Bebek adalah majalah yang ditunggu tunggu oleh Fandi setiap terbit pada hari selasa. Fandi bahkan telah menjadi langganan majalah tersebut. Setiap pulang sekolah, sang bocah langsung mencari si bebek cerewet itu, kadang sambil makan siang dengan majalah tersebut di samping piringnya atau langsung di bawa ke kamar untuk dibaca.

Selasa itu, cuaca mendung dan Fandi langsung mengambil majalah yang ada di atas meja. Membuka kaos kakinya dan naik ke kamarnya. Seperti biasa, posisi membaca Fandi membaca adalah tengkurap di atas ranjangnya. Kakinya menempel ke tembok. Saat membaca, Fandi menggerakan tubuhnya ke depan dan belakang. Seperti posisi berenang, Sang bocah berumur 12 tahun yang sedang puber itu terus menggoyangkan tubuhnya sambil membalik halaman demi halaman. Tiba-tiba saja rasa geli menjalar ke seluruh tubuhnya. Tanpa menggubris rasa tersebut, Fandi malah semakin cepat menggoyangkan tubuh kecilnya tanpa berhenti membaca si Donal Bebek. Kemudian rasa ingin pipis pun timbul, segera mungkin bocah tersebut bangkit menuju kamar kecil.

Terlambat…

Fandi merasakan pipis tersebut keluar sebelum ia sempat membuka pintu kamarnya. Dalam hati, ia sangat malu sekali. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, ” mengapa pipis kali ini tidak membuatnya basah?”. Segera ia mengecek celana dalamnya. Pipis kali ini sangat berbeda. Fandi langsung panik. Beritahu orang tuanya karena pipis aneh ini atau tidak. Keputusannya adalah menyimpan rahasia ini sementara waktu kemudian ia mengganti celana dalamnya.

BAB 4 : PHOBIA DAN PROVOKATOR CILIK

Fandi mempunyai paman yang umurnya tidak beda jauh dari dirinya. Hanya beda 10 tahun saja. Namanya sama dengan tokoh karakter terkenal buatan disney. Entah apa yang membuat dirinya mendapatkan nama tokoh tikus berwarna hitam dan dapat berbicara itu. Paman yang satu ini dekat dengan Fandi dan sepupunya yang lain. Hobi sang paman adalah menjahili para keponakan kecilnya termasuk si Fandi. Kadang hal ini dapat diterima tapi kadang pula kelewatan bagi Fandi.Seperti saat para sepupu di gendong di atas bahu paman. Dengan di takuti-takuti untuk di jatuhkan ke lantai tentu saja membuat sepupu yang ada diatas menjerit ketakutan dan minta turun. Walaupun kejadian ini sering terjadi, tetap saja para sepupu tidak kapok untuk digendong.

Fandi berniat membalas sang paman. Apa daya, tubuhnya lebih kecil. Yang dapat dilakukan adalah menggigit lengan atau paha paman dengan keras. Ini tidak cukup.

Di keluarga Fandi banyak sekali anggota keluarga yang paranoid terhadap hewan. Tante pertama takut ular sementara Tante ke 7 takut akan tikus, coba saja tunjukkan mereka mainan berbentuk kedua hewan tersebut. Dijamin teriakan melengking dan sumpah serapah akan terdengar, bahkan pingsan akan terjadi. Ada pula adik perempuan Fandi yang takut akan serangga bergerombol seperti semut atau sepupunya yang sangat takut pada kecoak.

Suatu hari, Fandi membeli dan membawa pulang seekor anak ayam berwarna kuning yang lucu. Abak ayam ini membuat luluh hati para adik dan sepupu Fandi yang melihat. Mereka berusaha memegang si anak ayam. Saat itu paman yang bernama Miki itu pulang sekolah dan bertanya “apa itu?”, tiba-tiba tanpa dijawab dirinya berteriak dan kabur. Fandi sadar apa yang membuatnya lari. Dengan sigap si anak ayam digenggam dan dibawa ke arah kamar paman sambil berkata, ” buka dong…ini cuma anak ayam kecil loh, lucu…”. paman Miki tidak membuka pintu malah ia menghadrik Fandi untuk membawa pergi si mahkluk kecil lucu itu. Kejadian ini hampir berlansung tiap hari saat paman pulang sekolah. Teriakan dan tawa terdengar setiap siang. Akhirnya Fandi menemukan rahasia cara mengalahkan paman.

* * * *

Coba tanya kepada keluarga besar sang bocah , siapa biang kerok di rumah? Jawab mereka pasti Fandi. Kenakalan dan keisengan Fandi (kalau saja semua orang tahu kalau sebenarnya perilaku bocah ini salah satu dari kejeniusan) merambah sampai ke para adik dan sepupunya yang masih kecil.Seperti provokator, Fandi sering mengeluarkan ide aneh dan tidak dapat diterima oleh keluarga.

Suatu ketika, film Jurrasic Park telah diputar di bioskop-bioskop di Jakarta. Fandi ingin menonton film itu, tetapi dengan para adik dan sepupunya. Ia mengiklankan film tersebut agar diberi ijin untuk menonton,” Di film ini ada disnosaurus yang berguna buat pendidikan kita akan mahkluk zaman jurrasic”. Setelah diijinkan untuk menonton dengan perjanjian akan diantar dan dijemput setelah film selesai karena saat itu Fandi masih berumur 13 tahun dan adik serta sepupunya masih kecil semua.



Film Jurrasic park yang mengetengahkan para ilmuwan yang berhasil membangkitkan Dinsoaur di jaman modern ini dengan membuka sebuah taman seperti kebun binatang ini adalah film Box Office. Antrian panjang selalu menjadi pemandangan di setiap loket bioskop yang memutar film ini. Ketika Fandi dan adik serta sepupunya tiba, tiket telah habis. Mereka harus menunggu 2 jam lagi untuk dijemput. Otak Fandi berpikir lain, apa yang ingin ditonton harus terwujud. Rombongan bocah itu pun meninggalkan gedung itu ke gedung lainnya. Berjalan kaki. Mereka akhirnya berhasil menonton film yang lumayan agak mengerikan. Dinosaurus itu memakan beberapa pemain di film tersebut.

Saat selesai, waktu menunjukkan 2 jam lewat dari jam yang dijanjikan untuk di jemput. Saat itu belum ada tekhnologi bernama Handphone, jadi tidak mungkin untuk memberitahu pejemput bahwa mereka ada digedung lain. Fandi dan rekan pun berjalan lagi balik ke gedung pertama. Sesampai disana, waktu telah lewat dari 3 jam dari waktu yang dijanjikan.Mereka menunggu di depan gedung. Sang pejemput datang dengan wajah pucat dan nafas tersengal-sengal sepertinya ia baru saja lari-lari. “Darimana kalian?dicariin dari jam 4. Hilang kemana?Nonton gak?Kamu bawa kemana mereka? Fandi?”. Sesampainya dirumah, Fandi dihukum.

BAB 3 : KORAN PERTAMA FANDI

Koran Pos kota hari minggu itu dibuka oleh bocah berumur 1 tahun 8 bulan. Rasa ingin tahu yang sangat besar terlihat dari wajah yang seperti orang dewasa membaca koran. Koran yang isinya bila diperas akan mengeluarkan darah karena headline dan isi beritanya hampir 70 % adalah pembunuhan, perampokan dan kejahatan lainnya.

Koran pagi hari itu adalah koran pertama Fandi, nama bocah yang membuka lembar demi lembar koran hitam putih tersebut dengan tergesa-gesa. “Tidak ada apa-apa di barang baru yang ada di lantai di hadapanku”, mungkin isi hati Fandi berkata seperti itu.

Tiba-tiba wajahnya berseri. Saat itu halaman yang terbuka di hadapannya adalah halaman berwarna warni. Bila dirinya bisa membaca judul dalam halaman tersebut pasti akan lebih menarik. Ali Oncom dan Si Otoy adalah salah satu judul di halaman tersebut. Mata kecilnya menatap dengan takjub.

Seperti sedang membaca, Fandi terus mengikuti kolom demi kolom yang bergambar di halaman tersebut. Suara berat seorang pria tua berumur 60an di belakang Fandi tidak membuyarkan konsentrasi bocah tersebut. “Fan..Kamu baca apa?”. Fandi tidak bergeming. Tangannya yang berkeriput menyentuk pundak Fandi. “Kamu memang bisa baca? hahaha..”, sang pria mengambil koran tersebut.

Fandi duduk terdiam. Dirinya belum bisa mengerti kenapa sang pria mengambil barang tersebut dari dirinya. Wajahnya yang polos cemberut. Bibirnya menekuk ke bawah. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya hanya ada kata kata seperti rengekan. Sang pria tidak menggubris, ia hanya mengelus kepala dan rambut Fandi berantakan kemudian duduk di sebuah kursi biru di ruang itu.

Kepala Fandi mulai mencari barang baru di sekelilingnya. Sebuah rol kertas ada di atas meja tamu. Tangan mungilnya mengambil dengan cepat gulungan kertas tersebut dan kaki kecilnya menaiki sofa di samping meja tersebut. Dengan bantuan lengan dan badannya, akhirnya tubuh kecil Fandi ada di atas sofa.

Gulungan itu terbuka, gambar yang terbalik. Seorang wanita seperti mamanya. Bedanya adalah wanita tersebut berambut pirang. Dengan latar belakang pantai, sang wanita hanya memakai pakaian merah yang sangat minim. Fandi dapat menyebut kata “nenen” ketika matanya menangkap dua buah barang yang ada di wanita tersebut. Mirip dengan yang ada di mamanya ketika dirinya lapar dan haus. Mama dengan baik hati akan memberikan Fandi buah tersebut dan rasa lapar dan haus Fandi pasti hilang. Jarinya terus menunjuk buah wanita yang ada di kertas tersebut.

Dibawah gambar wanita itu terdapat angka-angka yang akan Fandi pelajari saat ia mulai bisa membaca. Fandi membalik halaman. Di halaman berikut masih ada gambar wanita yang lain, kali ini baju minimnya berwarna biru. “Nenen..nenen..”; Fandi terus menunjuk kearah buah wanita yang tersenyum nakal di gambar.

Sang pria tua yang tadi merebut koran pertama Fandi bangkit dari kursi. “Fan…lepas kalender ini. Masih kecil jangan genit.”. Tangannya berusaha mengambil barang yang ada di tangan Fandi. Kali ini Fandi melawan. Tangan kanannya menahan. Tahu tidak akan kuat, ia menambah tenaga dengan tanagn kirinya. Mulutnya komat kamit merengek. Bahasa yang tidak di mengerti oleh sang pria. “Lepas Fan…kalender ini masih baru. Mau dipake, nanti robek…ayo lepas”, sang pria berusah membuat Fandi mengerti.

Fandi berdiri, mungkin dengan berdiri dia akan menang melawan sang pria yang sudah merebut koran pertamanya. “Tidak akan kuberikan kali ini”. Sang pria menarik kalender tersebut. Tubuh Fandi tertarik dan langsung menuju meja tamu yang ada di samping sofa tempat ia bertahan. Kaca yang ada di atas meja di tembus oleh tubuh yang tidak lebih dari 6 kg. Suara sang pria kali ini berteriak memanggil namanya dengan keras.

Fandi tidak mengerti apa apa ketika membuka kedua matanya. Wajah sang mama ada dihadapannya sambil mengusap rambut dan mencium kening Fandi. “Fandi sudah sadar”, kata sang mama. Suaranya di ikuti oleh banyak suara lainnya.

Ruangan tempat ia membuka mata berwarna putih dan harum obat-obatan. Selang menempel di lengan kanannya. Di atas lengan tepatnya di di bawah pundak, tertutup oleh perban putih yang menggulung. Semua mulai mencium pipi Fandi setelah mama. Setelah itu suara sang pria yang tadi menjadi musuh dalam perebutan dua barangnya terdengar. “Fandi..maafkan akong ya, untung kamu gak apa-apa, akong minta maaf”.Kemudian suara-suara lainnya bermunculan.

Fandi tidak mengerti mereka bicara apa, yang dirasakan adalah nyeri mulai menjalar di luka yang diperban. Dirinya mulai merintih, merengek dan menangis. Fandi tahu luka itu akan terus ada di bawah pundaknya. Luka yang didapat karena koran dan kelender pertamanya.