Wednesday, June 17, 2009

BAB 3 : KORAN PERTAMA FANDI

Koran Pos kota hari minggu itu dibuka oleh bocah berumur 1 tahun 8 bulan. Rasa ingin tahu yang sangat besar terlihat dari wajah yang seperti orang dewasa membaca koran. Koran yang isinya bila diperas akan mengeluarkan darah karena headline dan isi beritanya hampir 70 % adalah pembunuhan, perampokan dan kejahatan lainnya.

Koran pagi hari itu adalah koran pertama Fandi, nama bocah yang membuka lembar demi lembar koran hitam putih tersebut dengan tergesa-gesa. “Tidak ada apa-apa di barang baru yang ada di lantai di hadapanku”, mungkin isi hati Fandi berkata seperti itu.

Tiba-tiba wajahnya berseri. Saat itu halaman yang terbuka di hadapannya adalah halaman berwarna warni. Bila dirinya bisa membaca judul dalam halaman tersebut pasti akan lebih menarik. Ali Oncom dan Si Otoy adalah salah satu judul di halaman tersebut. Mata kecilnya menatap dengan takjub.

Seperti sedang membaca, Fandi terus mengikuti kolom demi kolom yang bergambar di halaman tersebut. Suara berat seorang pria tua berumur 60an di belakang Fandi tidak membuyarkan konsentrasi bocah tersebut. “Fan..Kamu baca apa?”. Fandi tidak bergeming. Tangannya yang berkeriput menyentuk pundak Fandi. “Kamu memang bisa baca? hahaha..”, sang pria mengambil koran tersebut.

Fandi duduk terdiam. Dirinya belum bisa mengerti kenapa sang pria mengambil barang tersebut dari dirinya. Wajahnya yang polos cemberut. Bibirnya menekuk ke bawah. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya hanya ada kata kata seperti rengekan. Sang pria tidak menggubris, ia hanya mengelus kepala dan rambut Fandi berantakan kemudian duduk di sebuah kursi biru di ruang itu.

Kepala Fandi mulai mencari barang baru di sekelilingnya. Sebuah rol kertas ada di atas meja tamu. Tangan mungilnya mengambil dengan cepat gulungan kertas tersebut dan kaki kecilnya menaiki sofa di samping meja tersebut. Dengan bantuan lengan dan badannya, akhirnya tubuh kecil Fandi ada di atas sofa.

Gulungan itu terbuka, gambar yang terbalik. Seorang wanita seperti mamanya. Bedanya adalah wanita tersebut berambut pirang. Dengan latar belakang pantai, sang wanita hanya memakai pakaian merah yang sangat minim. Fandi dapat menyebut kata “nenen” ketika matanya menangkap dua buah barang yang ada di wanita tersebut. Mirip dengan yang ada di mamanya ketika dirinya lapar dan haus. Mama dengan baik hati akan memberikan Fandi buah tersebut dan rasa lapar dan haus Fandi pasti hilang. Jarinya terus menunjuk buah wanita yang ada di kertas tersebut.

Dibawah gambar wanita itu terdapat angka-angka yang akan Fandi pelajari saat ia mulai bisa membaca. Fandi membalik halaman. Di halaman berikut masih ada gambar wanita yang lain, kali ini baju minimnya berwarna biru. “Nenen..nenen..”; Fandi terus menunjuk kearah buah wanita yang tersenyum nakal di gambar.

Sang pria tua yang tadi merebut koran pertama Fandi bangkit dari kursi. “Fan…lepas kalender ini. Masih kecil jangan genit.”. Tangannya berusaha mengambil barang yang ada di tangan Fandi. Kali ini Fandi melawan. Tangan kanannya menahan. Tahu tidak akan kuat, ia menambah tenaga dengan tanagn kirinya. Mulutnya komat kamit merengek. Bahasa yang tidak di mengerti oleh sang pria. “Lepas Fan…kalender ini masih baru. Mau dipake, nanti robek…ayo lepas”, sang pria berusah membuat Fandi mengerti.

Fandi berdiri, mungkin dengan berdiri dia akan menang melawan sang pria yang sudah merebut koran pertamanya. “Tidak akan kuberikan kali ini”. Sang pria menarik kalender tersebut. Tubuh Fandi tertarik dan langsung menuju meja tamu yang ada di samping sofa tempat ia bertahan. Kaca yang ada di atas meja di tembus oleh tubuh yang tidak lebih dari 6 kg. Suara sang pria kali ini berteriak memanggil namanya dengan keras.

Fandi tidak mengerti apa apa ketika membuka kedua matanya. Wajah sang mama ada dihadapannya sambil mengusap rambut dan mencium kening Fandi. “Fandi sudah sadar”, kata sang mama. Suaranya di ikuti oleh banyak suara lainnya.

Ruangan tempat ia membuka mata berwarna putih dan harum obat-obatan. Selang menempel di lengan kanannya. Di atas lengan tepatnya di di bawah pundak, tertutup oleh perban putih yang menggulung. Semua mulai mencium pipi Fandi setelah mama. Setelah itu suara sang pria yang tadi menjadi musuh dalam perebutan dua barangnya terdengar. “Fandi..maafkan akong ya, untung kamu gak apa-apa, akong minta maaf”.Kemudian suara-suara lainnya bermunculan.

Fandi tidak mengerti mereka bicara apa, yang dirasakan adalah nyeri mulai menjalar di luka yang diperban. Dirinya mulai merintih, merengek dan menangis. Fandi tahu luka itu akan terus ada di bawah pundaknya. Luka yang didapat karena koran dan kelender pertamanya.

No comments:

Post a Comment