Fandi pertama kali memperlihatkan bahwa dirinya suka membaca sejak umur 1 tahun 5 bulan. Luka di bawah bahu adalah bukti nyata usaha membacanya. Selain membaca, hobinya menulis. Sebenarnya bukan tulisan, karena anak berumur 2 tahun pastinya belum dapat menulis. Mungkin menggambar tepatnya. Fandi suka menggambar di kertas gambar yang diberikan ayahnya atau di tembok di ruang tamu. Bahkan pakaian yang dipakainya pun tak luput dari crayon dan spidol miliknya. Crayon 12 warna itu adalah hadiah dari Tante, kakak pertama mamanya. Sang Tante melihat bakat Fandi dalam menggambar. Ia pun menyediakan alat-alat untuk memulai bakat Fandi. Tante pun membawa Fandi untuk mengikuti Lomba Gambar di Taman Ria pada saat Fandi memasuki sekolah dasar.
Atas dasar kedua hal tersebut diatas, bakat menulis dan membaca, Papa dan mama Fandi berpikir untuk memasukkan ke sekolah Taman kanak-kanak. Tetapi umur 2 tahun belum dapat mengikuti Taman kanak-kanak. Tidak seperti saat ini dimana para ibu-ibu memasukkan anak-anaknya yang masih belum mengerti apa-apa ke sekolah playgroup. Dimana sang orang tua mengeluarkan uang yang lumayan besar dengan tujuan sang anak dapat pintar lebih duluan di banding anak lainnya yang non-playgroup. Dengan berat hati Papa dan Mama pun mengurungkan niatnya.
Tiba-tiba bakat Fandi pun bertambah. Saat ikut Mamanya ke Gajah Mada Plasa (Tempat ini adalah plasa pertama yang memakai konsep Pusat belanja seperti mal saat ini), Fandi dapat menghilang tiba-tiba saat mamanya lengah. Tahu putra satu-satunya bukan pesulap, ia pun histeris. Mencari dimana anaknya berada. Dengan bantuan petugas keamanan, akhirnya Fandi ditemukan sedang ada di atas panggung atrium sambil bergoyang-goyang sambil komat-kamit tidak jelas. Talenta baru? Kita lihat saja di usia remajanya. Memghilangkan diri ini terjadi tidak hanya satu kali tetapi beberapa kali. Bakat berikutnya adalah Fandi dengan lagak orang dewasa ketika berada di dalam toko buku mengambil buku-buku dan menumpuknya. Kemudian melihat ke mama atau papanya dengan tatapan,”boleh beli?’. Tentu saja orang tua bocah itu kali ini melihat Fandi terus. Takut pesulap kecil itu beraksi kembali.
Dengan bakat-bakat anehnya ini, keputusan orang tua Fandi sudah bulat. Informasi yang didapat dari kawan-kawan pun sampai ke telinga mereka. Fandi dimasukkan ke sekolah dimana pengajarnya adalah Kak Seto dan Kak Henny. Di sekolah ini, Fandi diijinkan menggambar sepuasnya di tembok berlapis kertas putih bersama teman-teman barunya. Menonton animasi Pinokio di layar lebar yang membuat Fandi terpukau. Menyanyi bersama dan membuat lilin mainan. Makanan Favorit Fandi di sekolah ini adalah Mie instant dan bubur kacang hijau. Fandi pun mendapat pendidikan pertamanya saat umurnya sebelum 3 tahun.

6 Tahun
Sekolah Dasar adalah hal yang berbeda untuk Fandi. Fandi menjadi penakut saat masuk kelas pertamanya. Untuk membuatnya duduk di kursi dalam kelas. Tante atau mamanya harus memaksa dengan iming-iming majalah Donal Bebek. Bila berhasil membuatnya duduk, Wajah mereka harus tetap muncul di balik jendela. Bila Fandi tidak mendapatkan wajah orang yang dikenalnya, ia langsung lari keluar sambil berteriak. Ajaibnya kejadian ini hanya berlangsung selama 2 minggu. Setelah itu, tanpa peduli melihat ke arah jendela sang bocah berumur 6 tahun itu sibuk dengan pelajaran yang diberi oleh gurunya.
Kegiatan sang bocah dengan teman sebangkunya, Melisa juga tak kalah ajaib. Saat sang guru menerangkan sesuatu dengan menulis di papan tulis. Fandi turun ke bawah bangku dengan teman perempuannya. Bukan berbuat mesum tetapi menggambar. hasil dari perbuatan mereka adalah berdiri satu kaki di depan kelas.
Kejadian lain. Teman sekelas Fandi bernama Arif. Arif adalah bocah gugupan. Bila di tegur dia dapat menangis langsung tanpa tahu salah dirinya. Bila di isengi temannya. Dia dapat langsung ngompol di celana. Guru-guru pun over- protective dengan Arif. Tetapi Fandi belum mendapat kesempatan mencoba apa yang bisa dilakukan teman sekelasnya itu. Satu hari, saat pelajaran menulis indah sedang berlangsung. Fandi mendapat ide. Dia pun mendekati Arif. Membisikkan ,” Eh…tadi makan siangmu aku kasih upil, makanya asin kan”. Tiba-tiba Arif menangis keras. Teman-teman dan Fandi mulai mencium bau sesuatu. Hangat dan legit. Seperti masakan baru matang. Sang Guru mulai mendatangi Arif. “Ada apa ini?kenapa kamu nangis?”. Bukannya diam, Arif makin menangis. Dia pikir sang guru pasti sedang memarahinya. “Arif…bau apa ini?”, sambil mengecek celana si bocah, “Ya Ampunnn…ikut ibu ke Wc..jangan dicelana dong.Kamu harusnya bilang kalau mau ke WC”. Kata-kata Ibu guru yang seharusnya berbaik hati di anggap Arif caci maki. Semakin kencanglah ia menangis. Arif pun di seret sang ibu keluar kelas. Fandi hanya diam, wajahnya kelihatan puas sudah dapat mengerjai temannya.

No comments:
Post a Comment