Jauh sebelum Fandi dilahirkan, keluarga besarnya telah lama menetap di ibukota yang mempunyai patung selamat datang di bundaran Hotel Indonesia. Keluarga ibunya datang dari sebuah kota bernama Shantou, kota kecil dekat dengan kota Guangzhou, Cina. Pada tahun dimana revolusi Cina tahun 1946, dimana Mao Zedong memproklamirkan People’s Republic of China dengan kemenangan partainya. Kemenangan ini berarti Cina menjadi Negara Komunis. Sementara Chiang KaiSek musuh pilitik Mao, beserta tentara dan 2 juta orang simpatisannya mengungsi ke sebuah pulau bernama Taiwan dengan negara Republic of China. Tidak hanya 2 juta orang yang ikut dengan Chiang KaiSek ke Taiwan, melainkan banyak juga mereka yang tidak suka dengan kepemimpinan Mao harus mengungsi ke negara lain.
Pasangan The Sui Lim dan Gouw Ngin Sim pun termasuk pasangan muda yang baru menikah dan harus mengungsi keluar dari Cina. meninggalkan keluarga besar mereka. Pernikahan pasangan muda ini sebenarnya telah direncanakan saat mereka masih kecil. Keluarga masing-masing mengenal baik dan untuk menambah hubungan, dijodohkanlah mereka. Saat harus menikah, SuiLim berumur 16 dan NginSim satu tahun dibawahnya.
Dalam tradisi mereka, mempelai wanita harus memakai sebuah mahkota yang menutupi wajahnya, mahkota yang sangat berat harus bertengger di kepala NginSim mengharuskan ia terus menunduk. Karena ini, mempelai wanita tidak dapat melihat wajah mempelai pria begitu juga dengan sang pria. Yang ada di benak masing-masing saat menuju pelataran untuk menikah adalah “Bila wajahnya buruk dan tidak sesuai dengan tipe, malam pertama adalah melarikan diri”.
Setelah mengucap janji sehidup semati dan dengan menyalakan Hio di Altar sembahyang. Mereka berlanjut ke kamar. Tamu-tamu dan para keluarga menikmati makan malam yang tersedia. Rencana pelarian diri akan dimulai. Tetapi setelah 1 jam di dalam kamar, sepertinya rencana itu telah dibatalkan.
SuiLim dan Nginsim mengungsi dari Shantou dengan membawa seadanya. Dengan bekal untuk membangun bisnis kecil di negara baru yang akan ditempati. Seperti banyak kawan-kawan yang mengungsi juga, Singapura menjadi tempat yang dituju. Dengan menaiki Kapal kayu bersama ratusan pengungsi lain. Perjalanan panjang dimulai. Perberhentian pertama adalah Negara bagian Malaysia yaitu Kuching.Karena tidak suka untuk menetap di sini, mereka melanjutkan perjalanan ke Kalimantan dan menetap untuk waktu yang cukup lama di kota Pontianak. Setelah dirasa cukup kuat melanjutkan perjalanan. Mereka menaiki lagi kapal yang akan membawa mereka ke Singapura. Seperti pesawat terbang Long-haul, kapal mereka pun perlu tansit. Transit mereka adalah Jakarta. Kota ini pun menarik hati mereka untuk tidak melanjutkan perjalanan panjang itu. Mereka menetap di kota ini dengan mulai membangun bisnis pabrik kecil yang membuat biskuit dan permen. Setelah itu panggilan mereka berubah menjadi Ko Pabrik dan Ci Pabrik.
Ko Pabrik menjalankan pabriknya dengan mengupah orang-orang sekitar daerah tempat tinggalnya. Krendang dengan rumah di setiap 10 meter dan pohon pohon rimbun sekitar daerah itu. Pabrik biskuit dan permen itu luasnya sekitar 20 m x 30 m. Lumayan besar. Ini pun harus dibagi dengan beebrapa kamar tidur, gudang penyimpanan bahan-bahan makanan, kantor operasional, dapur serta sebuah sumur dibelakang pabrik.Total pekerja adalah 15 orang. Becak yang menjadi kendaraan antar dan angkut barang ada 5 buah. Mobil yang dijadikan sarana transportasi keluarga kadangkala mengangkut barang pabrik pun hanya 1. Semua ini didapat dari usaha yang hanya dalam waktu 2 tahun karena kerja keras pasangan ini.
Kata tetangga sekitar. TV pertama yang dibeli Ko pabrik dan Ci pabrik adalah TV pertama di Krendang.Walau Hitam putih, Tv itu menjadi sarana untuk melihat filem dan berita setiap sore. Kalau malam minggu, setiap orang yang ingin nonton TV datang dan mereka bisa menikmati ubi dan kopi serta teh manis yang disiapkan pembantu Ko pabrik.
Kata tetangga, Ko pabrik dan Ci pabrik sangat baik. Bila ada yang membutuhkan beras atau bahan sembako lainnya. Ko pabrik hanya berkata,”loe ambil aja yang loe perlukan, sono masuk gudang”. Kepercayaan yang diberikan kepada setiap orang yang membutuhkan bantuan. Kadangkala tetangga yang tahu diri akan mengambil secukupnya, sisanya mengambil sebanyak-banyak yang mereka bisa. Hal ini lama-lama membuat usaha Ko pabrik semakin menurun.
Pada tahun 1960an, Ko Pabrik harus disita pabriknya karena utang di bank yang semakin menumpuk dan tidak bisa bayar. Kata tetangga, akibat Ko pabrik meminjamkan buku cek kepada karyawan kepercayaannya yang mendurus keuangan. Orang tersebut menukarkan buku cek yang sudah ditanda tangani Ko pabrik dan kabur ke negara lain. Jumlah yang sangat besar.
Keluarga Ko pabrik dan Ci pabrik harus menjual semua aset pabriknya ke orang lain. Orang yang membelinya mengubah pabrik itu menjadi perusahaan potong memotong kain. Mereka pindah ke sebuah rumah yang dipinjamkan tetangga baik mereka. Keluarga ini menjadi seperti saudara sendiri sampai sekarang. Akibat keluarga ini pula keluarga besar Ko pabrik mempunyai aksen Betawi-sunda. Dirumah ini Ko pabrik dan Ci pabrik membesarkan ke sepuluh putra putrinya dengan susah payah.
* * * *
Lili adalah putri ke-3 dari Ko Pabrik dan Ci Pabrik. Lahir saat Ko pabrik masih mempunyai pabrik. Rambutnya dikepang dua. Wajahnya mirip gambar lukisan putri cina yang dilukis dengan tinta sumi. Di banding kakak-kakak wanita dan adik-adiknya. Lili adalah yang paling malas keluar rumah. Di beri julukan “putri anti matahari” oleh keluarganya. Setelah remaja dan ayahnya bangkrut, Lili harus bekerja.Julukan itu mulai dipatahkan oleh dirinya. Ia bekerja di sebuah toko yang menjual Batik di kawasan pecinan Pancoran.
Saat hari minggu, keluarga Lili akan pergi ke Ancol. Melaksanakan piknik keluarga di pinggir pantai. Karena Lili sudah tidak takut matahari lagi, ia pun bergabung dengan aktivitas ini. Seorang pria kurus berambut ala Beattle dengan Motor butut Vespa-nya pun ada di tempat yang sama. Ia selalu mengawasi gerak-gerik Lili.Pria kurus ini bukanlah pria yang mempunyai pikiran bejat dan kotor. Pikirannya adalah bagaimana cara kenal wanita cantik ini. Hampir 3 minggu sang pria selalu ada sekitar 5 meter dari tempat keluarga Lili berpiknik. Gerak-gerik ini pun di ketahui oleh kakak wanitanya dan dengan sedikit bantuan akhirnya sang pria dan Lili bisa berkenalan. Ancol menjadi tempat pasangan ini memperkenalkan nama masing-masing.
Kelanjutan mereka di ikuti dengan menonton bioskop setiap sabtu, makan malam di daerah pecenongan, bahkan Lili sering di jemput dengan Vespa biru merek Piaggio sang pria dari tempat kerjanya. Lili sebenarnya malas dan belum siap berpacaran, karena ia wanita pertama yang melakukannya. Dengan alasan harus bekerja dan belum waktunya menikah, Lili tetap tidak bisa menghindar dari pria berkumis tipis itu. Waktu akhirnya yang membuat Lili mengerti bahwa dirinya mencintai sang pria. Hubungan mereka sebenarnya didukung oleh keluarga tetapi kakak-kakak perempuan Lili mempersulit sang pria untuk megetahui seberapa yakin sang pria mencintai Lili, adik mereka.
Setelah Sang pria berhasil menyakinkan dirinya mencintai Lili didepan keluarga besar. Akhirnya pada tahun 1979, mereka resmi menikah. Pernikahan kecil-kecilan, menganggap ekonomi keluarga saat itu sangat pas-pasan. Sang wanita anti matahari itu pun menikahi pria kurus berambut Beattle bernama Eddy. Dari Eddy dan Lili lahirlah putra pertama dan juga cucu pertama bernama Fandi pada tahun 1980. Bocah yang sangat di sayangi mengingat ia lah yang pertama lahir di keluarga.
Pasangan The Sui Lim dan Gouw Ngin Sim pun termasuk pasangan muda yang baru menikah dan harus mengungsi keluar dari Cina. meninggalkan keluarga besar mereka. Pernikahan pasangan muda ini sebenarnya telah direncanakan saat mereka masih kecil. Keluarga masing-masing mengenal baik dan untuk menambah hubungan, dijodohkanlah mereka. Saat harus menikah, SuiLim berumur 16 dan NginSim satu tahun dibawahnya.
Dalam tradisi mereka, mempelai wanita harus memakai sebuah mahkota yang menutupi wajahnya, mahkota yang sangat berat harus bertengger di kepala NginSim mengharuskan ia terus menunduk. Karena ini, mempelai wanita tidak dapat melihat wajah mempelai pria begitu juga dengan sang pria. Yang ada di benak masing-masing saat menuju pelataran untuk menikah adalah “Bila wajahnya buruk dan tidak sesuai dengan tipe, malam pertama adalah melarikan diri”.
Setelah mengucap janji sehidup semati dan dengan menyalakan Hio di Altar sembahyang. Mereka berlanjut ke kamar. Tamu-tamu dan para keluarga menikmati makan malam yang tersedia. Rencana pelarian diri akan dimulai. Tetapi setelah 1 jam di dalam kamar, sepertinya rencana itu telah dibatalkan.
SuiLim dan Nginsim mengungsi dari Shantou dengan membawa seadanya. Dengan bekal untuk membangun bisnis kecil di negara baru yang akan ditempati. Seperti banyak kawan-kawan yang mengungsi juga, Singapura menjadi tempat yang dituju. Dengan menaiki Kapal kayu bersama ratusan pengungsi lain. Perjalanan panjang dimulai. Perberhentian pertama adalah Negara bagian Malaysia yaitu Kuching.Karena tidak suka untuk menetap di sini, mereka melanjutkan perjalanan ke Kalimantan dan menetap untuk waktu yang cukup lama di kota Pontianak. Setelah dirasa cukup kuat melanjutkan perjalanan. Mereka menaiki lagi kapal yang akan membawa mereka ke Singapura. Seperti pesawat terbang Long-haul, kapal mereka pun perlu tansit. Transit mereka adalah Jakarta. Kota ini pun menarik hati mereka untuk tidak melanjutkan perjalanan panjang itu. Mereka menetap di kota ini dengan mulai membangun bisnis pabrik kecil yang membuat biskuit dan permen. Setelah itu panggilan mereka berubah menjadi Ko Pabrik dan Ci Pabrik.
Ko Pabrik menjalankan pabriknya dengan mengupah orang-orang sekitar daerah tempat tinggalnya. Krendang dengan rumah di setiap 10 meter dan pohon pohon rimbun sekitar daerah itu. Pabrik biskuit dan permen itu luasnya sekitar 20 m x 30 m. Lumayan besar. Ini pun harus dibagi dengan beebrapa kamar tidur, gudang penyimpanan bahan-bahan makanan, kantor operasional, dapur serta sebuah sumur dibelakang pabrik.Total pekerja adalah 15 orang. Becak yang menjadi kendaraan antar dan angkut barang ada 5 buah. Mobil yang dijadikan sarana transportasi keluarga kadangkala mengangkut barang pabrik pun hanya 1. Semua ini didapat dari usaha yang hanya dalam waktu 2 tahun karena kerja keras pasangan ini.
Kata tetangga sekitar. TV pertama yang dibeli Ko pabrik dan Ci pabrik adalah TV pertama di Krendang.Walau Hitam putih, Tv itu menjadi sarana untuk melihat filem dan berita setiap sore. Kalau malam minggu, setiap orang yang ingin nonton TV datang dan mereka bisa menikmati ubi dan kopi serta teh manis yang disiapkan pembantu Ko pabrik.
Kata tetangga, Ko pabrik dan Ci pabrik sangat baik. Bila ada yang membutuhkan beras atau bahan sembako lainnya. Ko pabrik hanya berkata,”loe ambil aja yang loe perlukan, sono masuk gudang”. Kepercayaan yang diberikan kepada setiap orang yang membutuhkan bantuan. Kadangkala tetangga yang tahu diri akan mengambil secukupnya, sisanya mengambil sebanyak-banyak yang mereka bisa. Hal ini lama-lama membuat usaha Ko pabrik semakin menurun.
Pada tahun 1960an, Ko Pabrik harus disita pabriknya karena utang di bank yang semakin menumpuk dan tidak bisa bayar. Kata tetangga, akibat Ko pabrik meminjamkan buku cek kepada karyawan kepercayaannya yang mendurus keuangan. Orang tersebut menukarkan buku cek yang sudah ditanda tangani Ko pabrik dan kabur ke negara lain. Jumlah yang sangat besar.
Keluarga Ko pabrik dan Ci pabrik harus menjual semua aset pabriknya ke orang lain. Orang yang membelinya mengubah pabrik itu menjadi perusahaan potong memotong kain. Mereka pindah ke sebuah rumah yang dipinjamkan tetangga baik mereka. Keluarga ini menjadi seperti saudara sendiri sampai sekarang. Akibat keluarga ini pula keluarga besar Ko pabrik mempunyai aksen Betawi-sunda. Dirumah ini Ko pabrik dan Ci pabrik membesarkan ke sepuluh putra putrinya dengan susah payah.
* * * *
Lili adalah putri ke-3 dari Ko Pabrik dan Ci Pabrik. Lahir saat Ko pabrik masih mempunyai pabrik. Rambutnya dikepang dua. Wajahnya mirip gambar lukisan putri cina yang dilukis dengan tinta sumi. Di banding kakak-kakak wanita dan adik-adiknya. Lili adalah yang paling malas keluar rumah. Di beri julukan “putri anti matahari” oleh keluarganya. Setelah remaja dan ayahnya bangkrut, Lili harus bekerja.Julukan itu mulai dipatahkan oleh dirinya. Ia bekerja di sebuah toko yang menjual Batik di kawasan pecinan Pancoran.
Saat hari minggu, keluarga Lili akan pergi ke Ancol. Melaksanakan piknik keluarga di pinggir pantai. Karena Lili sudah tidak takut matahari lagi, ia pun bergabung dengan aktivitas ini. Seorang pria kurus berambut ala Beattle dengan Motor butut Vespa-nya pun ada di tempat yang sama. Ia selalu mengawasi gerak-gerik Lili.Pria kurus ini bukanlah pria yang mempunyai pikiran bejat dan kotor. Pikirannya adalah bagaimana cara kenal wanita cantik ini. Hampir 3 minggu sang pria selalu ada sekitar 5 meter dari tempat keluarga Lili berpiknik. Gerak-gerik ini pun di ketahui oleh kakak wanitanya dan dengan sedikit bantuan akhirnya sang pria dan Lili bisa berkenalan. Ancol menjadi tempat pasangan ini memperkenalkan nama masing-masing.
Kelanjutan mereka di ikuti dengan menonton bioskop setiap sabtu, makan malam di daerah pecenongan, bahkan Lili sering di jemput dengan Vespa biru merek Piaggio sang pria dari tempat kerjanya. Lili sebenarnya malas dan belum siap berpacaran, karena ia wanita pertama yang melakukannya. Dengan alasan harus bekerja dan belum waktunya menikah, Lili tetap tidak bisa menghindar dari pria berkumis tipis itu. Waktu akhirnya yang membuat Lili mengerti bahwa dirinya mencintai sang pria. Hubungan mereka sebenarnya didukung oleh keluarga tetapi kakak-kakak perempuan Lili mempersulit sang pria untuk megetahui seberapa yakin sang pria mencintai Lili, adik mereka.
Setelah Sang pria berhasil menyakinkan dirinya mencintai Lili didepan keluarga besar. Akhirnya pada tahun 1979, mereka resmi menikah. Pernikahan kecil-kecilan, menganggap ekonomi keluarga saat itu sangat pas-pasan. Sang wanita anti matahari itu pun menikahi pria kurus berambut Beattle bernama Eddy. Dari Eddy dan Lili lahirlah putra pertama dan juga cucu pertama bernama Fandi pada tahun 1980. Bocah yang sangat di sayangi mengingat ia lah yang pertama lahir di keluarga.

nama Akong u The Sui Lim???
ReplyDeletenama nyoqap g The Sui Moy...dan juga sodara2 perempuannya yang lain 2 nama depannya pasti "The Sui..."
hwhwhw...
kita satu marga toh kalo dari nyoqap... :p
N