Wednesday, June 17, 2009

BAB 7 : AMA



Di sekolah, semua anak pasti belajar mengenai keluarga. Mulai dari Ibu, Ayah, Om, Tante, keponakan, Kakak, Adik, sepupu, kakek bahkan nenek, semua panggilan ini pasti kita pelajari.
Di setiap keluarga pun pasti mempunyai kakek dan nenek. Kalau di satu keluarga tidak mempunyai Kakek atau nenek, tidak mungkinlah. Siapa yang melahirkan ibu atau ayah?
Kakek dan Nenek pun bermacam-macam panggilannya. Mulai dari Opung, Apa, Oma, mbah bahkan Eyang.
Saat ini Fandi akan membicarakan tentang Neneknya. Nenek itu pun banyak persepsinya. Nenek itu karena sudah tua cerewet, galak, tidak mengerti anak muda, suka bikin repot, pokoknya gak asik. Bahkan ada yang menyamakan neneknya dengan nenek sihir atau kalau bisa gak perlu ketemu nenek deh.
Nenek Fandi di panggil Ama. Seorang nenek biasa yang memakai gigi palsu. Wajahnya bulat, berambut keriting dan murah senyum. Kalau bisa dibilang Ama adalah komedian keluarga.
Kejadian-kejadian yang terjadi bukan karena Ama adalah pelawak tapi karena ama itu sendiri. Yang paling seru dari Ama adalah kalau beliau bercerita. Perut bisa sakit.

* * * *

Ama dan minyak balsem panas

Kisah ini adalah favorit cucu-cucu ama. Ama bercerita, dirinya baru beranjak remaja, kira-kira berumur 12 tahun. Saat itu, ia merasa di sekitar dadanya tumbuh benjolan. Karena takut merepotkan keluarga serta ibunya, Ama pun memakaikan an mengusap balsem panas yang banyak ke dadanya. Hal ini dilakukan setiap habis mandi. Selang seminggu kemudian, Ibu ama pun mulai bertanya, " setiap sore sehabis mandi, kamu kok bau balsem? kamu sakit ya?"
Bukan menjawab, Ama malah kabur. Ibu ama mengejar. Kemudian memaksanya untuk menjawab, " Kamu kalo sakit, bilang dong, kita ke dokter".
Ama pun menjawab, " abis ada dua bisul di dada, saya takut semakin besar, makanya saya usap dengan balsem supaya kempes...".
Ibu ama tertawa..."itu kan tete..."

* * * *

Ama dan calon suami

Kisah ini diceritakan saat Fandi bertanya sejarah Ama dengan suaminya. Dari sisi Ama dan Kakek.

Saat Ama berumur di bawah 20 tahun, dirinya telah di jodohkan dengan putra rekan keluarganya. Jodoh jodohan masih berlaku saat itu. Ama tidak dapat menolak karena ini sudah tradisi. Dalam hati, Ama tidak ingin menikah muda dengan pria yang belum pernah di temuinya.
Saat pernikahan pun tiba. Ama menunggu sang calon suami datang ke rumah untuk menjemputnya. Ama telah memakai baju Cheong Sam pengantin dengan tutup kepala bertirai yang menutup wajahnya. Ama tidak dapat meilhat keluar, hanya dapat melihat arah kaki saja.
Dalam hati Ama, " Gimana kalo giginya hiyam-hitam? gimana kalo matanya juling?,"
Dalam hati sang calon suami pun sama, " Gimana kalo sang wanita wajahnya seperti babi? gimana kalo hidungnya pesek?"
Ternyata keduanya sudah mempersiapkan diri untuk tidak akan menyentuh satu sama lain pada malam pertama dan sudah memikirkan bagaimana caranya agar cepat bercerai.

Genderang berbunyi, rombongan calon suami datang. Di sambut dengan petasan yang memekakkan telinga. Hati kedua anak muda ini juga berdegup kencang.Kaki Ama kalau bisa melarikan diri pasti sudah dilakukan dari tadi.

Setelah mendegarkan beberapa kata dari tetua yang memimpin upacara pernikahan. Pemberian angpau pun dilakukan dari para orang tua dan kerabat. Tiba giliran sang pengantin untuk melihat wajah masing-masing. Sang calon suami yang sejak tadi hanya melihat tirai menutup wajah calon istrinya juga tidak sabar. Hati Ama ingin menangis karena takut apa yang dibayangkan terjadi dan hidupnya akan menderita dengan suami yang tidak akan dicintainya.
Saat tetua berkata untuk membuka tirai sang pengantin wanita. Ama membuka perlahan dan masing-masing dapat melihat wajah keduanya.

Sejak saat itu, Ama dan sang pria telah mempunyai 5 putra, 5 putri dan 18 cucu.

* * * *

Ama dan warna rambut

Ama yang sudah tua tetap ingin kelihatan eksis. Tidak menggunakan face lifting tentunya. Rambutnya di warnai dengan memakain pewarna rambut. Katanya untuk menutup uban.
Seperti biasa, Ama sering memakai produk yang sudah dikenalnya. Merek yang sama dengan no dan warna yang sama, bahkan ia mencatat di sebuah kertas.
Suatu hari, ama bersama Fandi ke sebuah supermarket. Ama hendak membeli Pewarna rambut yang biasa di belinya. Fandi yang saat itu di samping Ama menyarankan untuk memakai produk yang lain. Fandi mempromosikan merek tersebut dengan mengatakan warna lebih alami, tidak mengandung zat kimia dan lebih terkenal di banding yang dipakai Ama.
Ama percaya oleh Fandi. Kemudian Fandi mengambil sebuah pewarna rambut dan mengatakan warna yang ini yang sama dengan apa yang Ama biasa pakai. Ama bertanya, " kamu yakin yang ini?" Fandi yang sok tahu menjawab,"Ya Ama..yg ini"
Ama pun membelinya.
Kejadian ini terjadi hari kamis.
Pada hari minggu, Fandi bertemu dengan Ama di sebuah pertemuan agama Buddha. Ama memanggil Fandi...
"Fandi..kamu lihat, warna rambut ama...Ungu!".

* * * *
Ama dan Bahasa Indonesia

Ama tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik, tetapi beliau juga tidak mengajarkan putra-putri serta cucunya berbahasa mandarin. Karena Ama tidak dapat membaca, karena keluarga Ama waktu ia masih kecil termasuk miskin.
Ama tetap memakai bahasa Indonesia walau kadang bermasalah.

Ama mengucapkan Borobudur menjadi Bolobolobulur
Ama saat membeli Counterpain, ia mengatakan Kontolpen

* * * * *

Ama adalah sosok nenek yang sangat baik. Ia suka memasak makanan kesukaan keluarga terutama favorit Fandi.
Perjuangan Ama membesarkan anak-anaknya hingga menjadi pribadi yang baik pun menjalar ke cucu-cucunya.
Ama juga adalah sosok yang sangat kuat.
Saat beliau berumur 78 tahun dan kondisi kaki serta nafas yang tidak baik. Ama masih Memaksa ikut Jalan-jalan keluarga ke 5 negara selama 2 minggu, ber BACKPACKING ria. Kalau tidak diajak karena keluarga khawatir kesehatannya, Ama menjawab, " Oh, ya udah, tinggal aja dirumah, sudah tua aja tidak dikasih melihat dunia" sungguh diplomatis.

Senyum selalu menghias wajahnya.

Fandi sayang Ama

1 comment: